1.
PENDAHULUAN
Mandailing adalah sebuah daerah
di Sumatera Utara yang memiliki dan mempertahankan adat istiadat setempat.
Salah satu aspek budaya tradisional Mandailing yaitu perkawinan. Pelaksanaan
perkawinan tradisional Mandailing menempuh sederet upacara adat yaitu mangirit boru (menyelidiki keadaan calon
istri oleh pihak calon suami), padamos
hata (penentuan hari peminangan), patobang
hata (upacara peminangan), manulak sere (penyerahan syarat-syarat
perkawinan dari pihak calon suami), mangalehan
mangan pamunan (memberi makan terakhir kepada calon istri oleh orang tuanya
sebelum meninggalkan rumah), upacara pernikahan, orja pabuat boru (upacara pelepasan mempelai perempuan), horja (perhelatan perkawinan di rumah
mempelai laki-laki), dan mangupa (upacara
pemberian nasihat-nasihat perkawinan) (Nasution, 2005:279).
Mangupa
sebagai puncak atau upacara terakhir dalam perkawinan Mandailing merupakan
upacara yang sangat menarik. Mangupa dihadiri
oleh perangkat dalihan na tolu (kahanggi, mora, dan anakboru) dan
penasihat perkawinan yang disampaikan oleh seorang datu pangupa. Upacara mangupa
yang disampaikan secara verbal menggunakan
berbagai macam benda sebagai
simbol yang terealisasi dalam teks serta mengandung ungkapan budaya yang memerlukan
strategi dan teknik-teknik penerjemahan.
Teks mangupa dipilih sebagai teks yang
dikupas dalam kajian ini karena teks ini terikat dengan budaya dan memiliki
banyak ungkapan budaya. Selain itu, mangupa
bukan hanya disampaikan dalam teks prosa, tetapi juga teks puisi yang berirama.
1.1. Landasan Teori
Semiotik adalah
kajian tanda. Semua definisi atau pengertian semiotik memiliki variasi dengan
tanda sebagai fokus. Dengan kata lain, pengertian apapun yang diberikan pakar,
definisi semiotik tetap berpijak pada konsep atau pengertian dasar, yakni
kajian tanda. Eco (1979:7) mengatakan bahwa
semiotik berkenaan dengan segala sesuatu yang dapat dipandang sebagai tanda.
Definisi ini memberikan pengertian bahwa suatu tanda bergantung pada pandangan
individu. Seseorang dapat memandang sesuatu sebagai tanda, yang lain mungkin
tidak memandangnya sebagai tanda.
Dengan kata lain,
tanda tergantung pada individu dalam menafsirkannya. Lebih luas dari Eco,
Fawcett berpendapat bahwa semiotik
adalah kajian sistem tanda dan penggunaanya. Definisi ini menempatkan tanda
sebagai sistem, yakni sesuatu yang mempunyai kaitan dengan yang lain dan
definisi ini juga mencakupi pemakaian tanda. Artinya, satu tanda jika digunakan
dalam dua situasi yang berbeda akan menimbulkan dua makna yang berbeda
(ambigu). Penafsiran makna tanda bergantung pada konteks
sosial tanda.
Benny H. (2008:3) mendefinisikan
semiotik sebagai kajian sistem tanda dalam kehidupan manusia. Sama seperti
Fawcett, definisi ini menempatkan tanda dalam hubungannya dengan yang lain atau
dalam konteksnya. Berbeda dengan pakar lain, Van Leeuwen (2006: 285)
memvariasikan cakupan semiotik sebagai kajian sumberdaya semiotik dan
penggunaannya (the study of semiotic
resources and their uses). Sumber daya semiotik mencakupi perbuatan,
materi, dan alat yang digunakan untuk tujuan komunikasi. Sumber daya semiotik
memiliki potensi makna berdasarkan kelaziman pemakaiannya dan kemungkinan
penggunaannya menguatkan bahwa semiotik adalah kajian tanda.
Dari uraian tersebut, jelaslah
bahwa penelitian semiotik merupakan studi tentang tanda. Karya sastra akan
dibahas sebagai tanda-tanda. Tentu, tanda-tanda tersebut telah ditata oleh
pengarang sehingga ada sistem, konvensi, dan aturan-aturan yang harus
dimengerti oleh peneliti.
Karya
sastra merupakan struktur yang kompleks sehingga untuk memahami sebuah karya
sastra diperlukan penganalisisan. Penganalisisan tersebut merupakan usaha
secara sadar untuk menangkap dan memberi muatan makna kepada teks sastra yang
memuat berbagai sistem tanda. Seperti yang dikemukakan oleh Saussure bahwa
bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili
sesuatu yang lain yang disebut makna (Nurgiyantoro, 2002:39). Bahasa tak lain
adalah media dalam karya sastra.
Tidak
terkecuali pada teks sastra yang berbentuk puisi, maka untuk pemahaman makna
pada puisi menggunakan kajian struktural yang tidak dapat dipisahkan dengann
kajian semiotik yang
mengkaji tanda-tanda. Hal ini sejalan dengan
pendapat Pradopo (1987:108) yang mengemukakan bahwa analisis struktural tidak
dapat dipisahkan dengan analisis semiotik. Karena semiotik dan strukturalisme
adalah prosedur formalisasi dan klasifikasi bersama-sama. Keduanya memahami
keseluruhan kultur sebagai sistem komunikasi dan sistem tanda dan berupaya ke
arah penyingkapan aturan-aturan yang mengikat. Analisis tanda sebagai
hasil proses-proses sosial menuju kepada sebuah pembongkaran struktur-struktur
dalam yang mengemudikan setiap komunikasi.
Hal ini menandakan bahwa sistem tanda dan konvensinya merupakan jalan
dalam pembongkaran makna tanpa memperhatikan sistem tanda maka struktur karya sastra tidak
dapat dimengerti maknanya secara keseluruhan.
Munculnya kajian struktural semiotik ini sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian
struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya
sastra memiliki sistem tersendiri.
Kajian struktural
semiotik akan mengungkap karya sastra sebagai sistem tanda. Tanda tersebut
merupakan sarana komunikasi yang bersifat estetis. Nauta (Seggers dalam
Endaswara, 2003:65) membagi tiga jenis sarana komunikasi, yakni signals dan symbol. Signals adalah
tanda-tanda yang merupakan elemen terendah. Sign
adalah tanda-tanda. Symbol adalah
lambang yang bermakna. Ketiganya digunakan bersamaan dalam dunia sastra. Oleh
karena itu, tugas peneliti sastra adalah memberikan rincian ketiganya sehingga
makna sastra menjadi jelas.
2.
Langkah Analisis Data
Sistem penelitian semiotik dapat menggunakan dua model
pembacaan, yaitu heuristik dan hermeneutik.
2.1 Pembacaan Heuristik
Pembacaan
heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur kebahasaan atau secara semiotik adalah
berdasarkan konvensi sistem semiotik
tingkat pertama. Yang dilakukan dalam pembacaan ini antara lain
menerjemahkan atau memperjelas arti kata-kata dan sinonim-sinonim. Pembacaan
heuristik pada puisi dapat dilakukan dengan parafrase dengan menggunakan bahasa
yang lebih logis (pemaknaan yang sesuai dengan sintaksis/tata bahasa).
2.2
Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan
hermeneutik adalah pembacaan yang dilakukan secara berulang-ulang (retroaktif) atau berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua
(konvensi sastra). Hal itu dilakukan untuk memperoleh daya interpretasi yang
baik dalam mengungkapkan bahasa puisi yang lebih luas menurut maksudnya.
Pembacaan hermeneutik ini berkaitan dengan konvensi sastra yang memberikan
makna itu di antaranya konvensi ketaklangsungan ekspresi puisi (Riffaterre
dalam Jabrohim, 2003:97). Ketidaklangsungan ekspresi puisi mencakup tiga hal
(Endraswara, 2003:66), yaitu:
i)
Penggantian arti (displacing of meaning) adanya
pemakaian bahasa kias, seperti metafora, personifikasi, alegori, metonimia, dan
sebagainya. Misal: “bumi ini perempuan jalang” (Dewa Telah Mati karya Chairil
Anwar) berupa metafora ini membandinngkan antara bumi dengan perempuan jalang
(liar), berarti penyair ingin menyampaikan betapa “kejamnya” bumi ini.
ii)
Penyimpangan arti (distorting of
meaning) penyimpangan arti muncul karena tiga hal, yaitu:
a)
Ambiguitas muncul disebabkan oleh pemakaian bahasa sastra yang multimakna.
Misal: “mengembara di negeri asing” (Doa karya Chairil Anwar) jelas melukiskan
ambigu makna, yakni suasana bingung, tidak jelas, kabur, dan sunyi.
b)
Kontradiksi, berupa perlawanan situasi. Misal: “serasa hidup dan mati,
hidup di dunia seperti di neraka jahanam”
c)
Nonsence, kata-kata yang secara lingual tidak bermakna karena adanya permainan bunyi. Misal: “pot pot pot” (Amuk karya Sutardji Calzoum Bachri).
iii)
Penciptaan arti (creating of meaning)
Penciptaan arti disebabkan
oleh pemanfaatan bentuk visual, misal: enjambemen, persajakan, homologues (persejajaran
bentuk maupun baris), dan
tipografi. Misal: puisi Tragedi Sihka dan Winka.
Hal
ini mengisyaratkan bahwa sistem tanda pada puisi mempunyai makna berdasarkan
konvensi-konvensi sastra. Konvensi-konvensi puisi tersebut antara lain:
konvensi kebahasaan (bahasa kiasan, sarana retorika, dan gaya bahasa), konvensi
yang menunjukkan ketidaklangsungan ekspresi puisi (penyimpangan arti,
penggantian arti, dan penciptaan arti), konvensi visual (bait, baris sajak,
enjambemen, rima, tipografi, dan homologue (Jabrohim, 2003: 70).
3.
Transkripsi Teks
Teks mangupa
Pantun 1
Natuari, di mata ni ari
guling
Di sima au ro tingon luat ni Mandailing
Ia ulang suada na uoban
Adat ni ompunta na robian
Sai hita pagogo ma partahian
Anso samate sahangoluan
Terjemahan:
Kemarin,
ketika matahari berguling
Di
saat itulah aku datang dari ranah
Mandailing
Tiada
apapun yang aku bawa
Selain
adat nenek moyang kita
Marilah
kita perkokoh kesepahaman kita
Supaya
kita sehidup semati selamanya
Pantun 2
Pala dung songon i
Sahino ma i samalu
Inda marimbar na disuru
Sude karejo angkon lalu
Terjemahan:
Jika sudah demikian adanya
Sependeritaan dan seaiblah kita
Siapa saja yang diminta
Semua pekerjaan akan terlaksana
Pantun 3
Tubuan laklak, tubuan singkoru
Tubuan anak nian tubuan boru
Gosta-gosta giring-giring
Marompa mariring-iring
Terjemahan:
Belilah salak pagi-pagi di pekan
salak Sidempuan
Lahirlah anak laki-laki lahirlah
anak perempuan
Gelang di tangan gemerincing
Menggendong anak beriring-iring
Pantun 4
Di Muarasada
Marlai-lai do singkoru
Langga-langga sada
Jolo halaklahi anso dadaboru
Terjemahan:
Di Muarasada di depan dangau
Berjurai-jurai buah rambutan
Berantara-antara satu
Anak laki-lakilah dahulu disusul
anak perempuan
Pantun 5
Dihanaek ni mataniari
Di sima naek tua hamamora
Harani rumbuk hita satahi
Madung dapot lomo ni roha
Terjemahan:
Di saat matahari sedang naik
Di saat itulah tuah dan kemuliaan
naik
Karena
kita rukun kita sepakat
Senang
hatipun sudah didapat
Pantun
6
Dijujar harambir poso
Mangihut saludang na tobang
Tinggalkon ma amang adat naposo
Madung sandang adat matobang
Terjemahan:
Dijolok kelapa muda
Ikut
terjatuh pelapah tua
Tinggalkanlah Amang adat orang muda
Sudah
tersandang adat berkeluarga
Pantun 7
Talduskon ma
giring-giring
Laho mamasukkon golang-golang
Tinggalkon ma inang adat mabujing
Madung jujung adat
matobang
Terjemahan:
Lepaskanlah kerincing
Ketika
memasang gelang-gelang
Adat remaja biarlah terbuang
Adat
berkeluarga sudah dijunjung
Pantun 8
Malos ma dingin-dingin
Obanon tu
sipogu
Horas ma
tondi madingin
Pir tondi
matogu
Sayur
matua-bulung
Horas… Horas… Horas!
Terjemahan:
Tanamlah betik di
pekarangan
Daun
betik diperas menjadi obat
Semoga semangat sejuk dan
nyaman
Semoga
semangat keras dan kuat
Semoga
panjang umur dan selamat
Selamat…
Selamat…Selamat!
Pantun 9
Di son adong tulan rincan
Sada sin
siamun
Sada sian
siambirang
Manorjak
laho tu pudi
Mangambur laho tu jolo
Mangambukon
anak dohot boru
Pitu sundut
suada mara
Maroban tua
hamamora
Terjemahan:
Inilah daging paha kerbau
Dari
sebelah kanan satu
Dari
sebelah kiri satu
Menerjang
ke belakang hulu
Lalu
meloncat kehadapan
Meloncatkan anak laki-laki dan perempuan
Tiada bencana tujuh
keturunan
Membawa
tuah dan kemuliaan
Pantun 10
Di son ma juhut
gana-ganaan
Mambaen
gorar maginjang-magodang
Gorarna tarmauk-tarbonggal
Tu ipar ni laut siborang
Mambaen partahian ulang janggal
Patogu tua ulang sirang
Inilah
daging hewan piaraan
Membuat nama menjadi panjang dan terkenal
Nama yang tersohor hingga ke seberang
lautan
Berembuk janganlah janggal
Perkokoh tuah, keakraban jangan tanggal
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kajian Strukturalisme
Semiotik
Menurut Pierce, ada tiga faktor yang
menentukan adanya tanda, yaitu ikon, yakni
tanda yang secara inheren memiliki kesamaan dengan arti yang ditunjuk; indeks, yakni tanda yang mengandung
hubungan kausal dengan apa yang ditandakan; dan simbol, tanda yang memiliki hubungan makna dengan yang ditandakan
bersifat arbitrer, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan sosial tertentu.
Dari beberapa teks pantun dapat dijumpai hubungan antara tanda dengan yang
ditandai, sebagaimana pada daftar berikut.
4.1.1
Ikon
Tabel 1. Ikon
|
Ikon
|
Yang Ditunjuk
|
Pantun
|
|
Matahari
|
Kehidupan
|
(1)
|
|
Berguling
|
Terbit
|
(1)
|
|
Pakat
|
Perkataan
|
(1)
|
|
Salak
|
Kota Sidempuan
|
(3)
|
|
anak laki-laki
|
pembawa marga
|
(3
|
|
Gelang
|
perhiasan
|
(3)
|
|
gemerincing
|
menunjukkan kedudukan
|
(3)
|
|
beriring-iring
|
banyak anak
|
(3)
|
|
muarasada
|
danau
|
(4)
|
|
rambutan
|
banyak anak
|
(4)
|
|
matahari
|
kemuliaan
|
(5)
|
|
kelapa muda
|
masa muda
|
(6)
|
|
Amang
|
anakku saying
|
(6)
|
|
pelepah tua
|
masa tua
|
(7)
|
|
kerincing
|
bergunjing
|
(7)
|
|
gelang-gelang
|
berkeluarga
|
(7)
|
|
Betik
|
obat
|
(8)
|
|
Kerbau
|
kesejahteraan
|
(9)
|
|
hewan peliharaan
|
kekayaan
|
(10)
|
4.1.2 Indeks
Tabel 2. Indeks
|
Indeks
|
Hubungan Kausal
|
Pantun
|
|
sependeritaan
|
Aib
|
(2)
|
|
Gelang
|
berbunyi
|
(3)
|
|
Dangau
|
mandi
|
(4)
|
|
rambutan
|
berjuntai-juntai
|
(4)
|
|
matahari
|
cerah
|
(5)
|
|
kerincing
|
kebisingan
|
(7)
|
|
Bencana
|
hancur
|
(9)
|
|
Nama
|
identitas
|
(10)
|
4.1.3 Simbol
Simbol
à Hubungan makna à Pantun
Kemarin, ketika
matahari berguling/ Di saat itulah aku datang dari ranah Mandailing/ Tiada
apapun yang aku bawa/ Selain adat nenek moyang kita/ Marilah kita perkokoh
pakat kita/ Supaya kita sehidup semati selamanya à Harapan yang tinggi akan kekukuhan
serta kerukunan dalam hidup bersama (1). Belilah salak pagi-pagi di pekan salak
Sidempuan/ Lahirlah anak laki-laki lahirlah anak perempuan/ Gelang di tangan
gemerincing/ Menggendong anak beriring-iring à Harapan memiliki anak laki-laki
dan perempuan (3). Di Muarasada di depan dangau/ Berjurai-jurai buah rambutan/
Berantara-antara satu/ Anak laki-lakilah dahulu disusul anak perempuan à Harapan akan dikaruniai keturunan
anak banyak, laki-laki dan perempuan (anak pertama laki-laki dan disusul anak perempuan)
(4). Di saat matahari sedang naik/ Di saat itulah tuah dan kemuliaan naik/Karena
kita rukun kita sepakat/ Senang hatipun sudah didapat àKeyakinan bahwa saat matahari
sedang naik (biasanya antara pukul 10-11pagi) merupakan saat yang tepat melakukan
acara mangupa (5). Dijolok kelapa
muda/Ikut terjatuh pelapah tua/ Tingkanlah Amang
adat orang muda/ Sudah tersandang
adat berkeluarga/ Lepaskanlah kerincing/Ketika memasang gelang-gelang/ Adat
remaja biarlah terbuang/ Adat berkeluarga sudah dijunjung à Anjuran kepada
kedua mempelai agar meninggalkan tradisi/kebiasaan orang muda sebab mereka
sudah memasuki masa tua (masa berumah tangga) (6 dan 7). Tanamlah betik di pekarangan/
Daun betik diperas menajadi obat/ Semoga semangat sejuk dan nyaman/ Semoga semangat
keras dan kuat/ Semoga panjang umur dan selamat/ Selamat… Selamat…Selamat! à Harapan agar semangat sejuk, kokoh, dan
usia terus berlanjut (8). Inilah
daging hewan piaraan/ Membuat nama menjadi panjang dan terkenal/ Nama yang tersohor hingga ke seberang
lautan/ Berembuk janganlah janggal/ Perkokoh
tuah, keakraban jangan tanggal à Harapan agar nama kedua mempelai menjadi
mashur bukan saja di antara orang-orang dekat, tetapi juga orang jauh (10).
5. SIMPULAN
Dari delapan teks pantun dalam prosesi mangupa yang diteliti dapat disimpulkan bahwa hubungan antara tanda
dengan yang ditandakan terdiri atas tiga faktor yaitu: ikon, indeks, dan
simbol. Untuk ikon terdapat sembian belas kata dan ungkapan, indeks sebanyak delapan kata dan ungkapan, sedangkan simbol terdapat sebanyak
enam ungkapan dan kalimat yang mengacu pada
teks ini.