Minggu, 11 Januari 2015

EKSPLORASI STRUKTURALISME SEMIOTIK TEKS MANGUPA PADA UPACARA ADAT PERNIKAHAN ANGKOLA-MANDAILING



EKSPLORASI STRUKTURALISME SEMIOTIK TEKS MANGUPA PADA UPACARA ADAT PERNIKAHAN ANGKOLA-MANDAILING
Dian Syahfitri

Abstrak
Mangupa merupakan upacara terakhir dalam pernikahan Angkola Mandailing. Teks mangupa dipilih sebagai teks yang dikupas dalam kajian ini karena teks ini terikat dengan budaya dan memiliki banyak ungkapan budaya. Selain itu, mangupa bukan hanya disampaikan dalam teks prosa, tetapi juga teks puisi yang berirama. Peneliti akan mengkaji pantun yang terdapat dalam prosesi mangupa melalui analisis strukturalisme semiotik. Penelitian semiotik merupakan studi tentang tanda. Tentu, tanda-tanda tersebut telah ditata oleh pengarang sehingga ada sistem, konvensi, dan aturan-aturan yang harus dimengerti oleh peneliti. Kajian struktural semiotik akan mengungkap karya sastra sebagai sistem tanda. Tanda tersebut merupakan sarana komunikasi yang bersifat estetis.Penelitian ini menggunakan teknik analisis pembacaan heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur kebahasaan atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama dan pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang dilakukan secara berulang-ulang (retroaktif) atau berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ikon terdapat sembilan belas kata dan ungkapan, indeks sebanyak delapan kata dan ungkapan, sedangkan simbol terdapat sebanyak enam ungkapan dan kalimat yang mengacu pada teks ini.

Kata kunci: strukturalisme semiotik, teks mangupa.


               
1.      PENDAHULUAN
Mandailing adalah sebuah daerah di Sumatera Utara yang memiliki dan mempertahankan adat istiadat setempat. Salah satu aspek budaya tradisional Mandailing yaitu perkawinan. Pelaksanaan perkawinan tradisional Mandailing menempuh sederet upacara adat yaitu mangirit boru (menyelidiki keadaan calon istri oleh pihak calon suami), padamos hata (penentuan hari peminangan), patobang hata  (upacara peminangan), manulak sere (penyerahan syarat-syarat perkawinan dari pihak calon suami), mangalehan mangan pamunan (memberi makan terakhir kepada calon istri oleh orang tuanya sebelum meninggalkan rumah), upacara pernikahan, orja pabuat boru (upacara pelepasan mempelai perempuan), horja (perhelatan perkawinan di rumah mempelai laki-laki), dan mangupa (upacara pemberian nasihat-nasihat perkawinan) (Nasution, 2005:279).
Mangupa sebagai puncak atau upacara terakhir dalam perkawinan Mandailing merupakan upacara yang sangat menarik. Mangupa dihadiri oleh perangkat dalihan na tolu (kahanggi, mora, dan anakboru) dan penasihat perkawinan yang disampaikan oleh seorang datu pangupa. Upacara mangupa yang disampaikan secara verbal menggunakan


berbagai macam benda sebagai simbol yang terealisasi dalam teks serta mengandung ungkapan budaya yang memerlukan strategi dan teknik-teknik penerjemahan.

Teks mangupa dipilih sebagai teks yang dikupas dalam kajian ini karena teks ini terikat dengan budaya dan memiliki banyak ungkapan budaya. Selain itu, mangupa bukan hanya disampaikan dalam teks prosa, tetapi juga teks puisi yang berirama.

1.1.   Landasan Teori
Semiotik adalah kajian tanda. Semua definisi atau pengertian semiotik memiliki variasi dengan tanda sebagai fokus. Dengan kata lain, pengertian apapun yang diberikan pakar, definisi semiotik tetap berpijak pada konsep atau pengertian dasar, yakni kajian tanda. Eco (1979:7) mengatakan bahwa semiotik berkenaan dengan segala sesuatu yang dapat dipandang sebagai tanda. Definisi ini memberikan pengertian bahwa suatu tanda bergantung pada pandangan individu. Seseorang dapat memandang sesuatu sebagai tanda, yang lain mungkin tidak memandangnya sebagai tanda.
Dengan kata lain, tanda tergantung pada individu dalam menafsirkannya. Lebih luas dari Eco, Fawcett  berpendapat bahwa semiotik adalah kajian sistem tanda dan penggunaanya. Definisi ini menempatkan tanda sebagai sistem, yakni sesuatu yang mempunyai kaitan dengan yang lain dan definisi ini juga mencakupi pemakaian tanda. Artinya, satu tanda jika digunakan dalam dua situasi yang berbeda akan menimbulkan dua makna yang berbeda
(ambigu). Penafsiran makna tanda bergantung pada konteks sosial tanda.
Benny H. (2008:3) mendefinisikan semiotik sebagai kajian sistem tanda dalam kehidupan manusia. Sama seperti Fawcett, definisi ini menempatkan tanda dalam hubungannya dengan yang lain atau dalam konteksnya. Berbeda dengan pakar lain, Van Leeuwen (2006: 285) memvariasikan cakupan semiotik sebagai kajian sumberdaya semiotik dan penggunaannya (the study of semiotic resources and their uses). Sumber daya semiotik mencakupi perbuatan, materi, dan alat yang digunakan untuk tujuan komunikasi. Sumber daya semiotik memiliki potensi makna berdasarkan kelaziman pemakaiannya dan kemungkinan penggunaannya menguatkan bahwa semiotik adalah kajian tanda. 
Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa penelitian semiotik merupakan studi tentang tanda. Karya sastra akan dibahas sebagai tanda-tanda. Tentu, tanda-tanda tersebut telah ditata oleh pengarang sehingga ada sistem, konvensi, dan aturan-aturan yang harus dimengerti oleh peneliti.
Karya sastra merupakan struktur yang kompleks sehingga untuk memahami sebuah karya sastra diperlukan penganalisisan. Penganalisisan tersebut merupakan usaha secara sadar untuk menangkap dan memberi muatan makna kepada teks sastra yang memuat berbagai sistem tanda. Seperti yang dikemukakan oleh Saussure bahwa bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna (Nurgiyantoro, 2002:39). Bahasa tak lain adalah media dalam karya sastra.
Tidak terkecuali pada teks sastra yang berbentuk puisi, maka untuk pemahaman makna pada puisi menggunakan kajian struktural yang tidak dapat dipisahkan dengann kajian semiotik yang mengkaji tanda-tanda. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (1987:108) yang mengemukakan bahwa analisis struktural tidak dapat dipisahkan dengan analisis semiotik. Karena semiotik dan strukturalisme adalah prosedur formalisasi dan klasifikasi bersama-sama. Keduanya memahami keseluruhan kultur sebagai sistem komunikasi dan sistem tanda dan berupaya ke arah penyingkapan aturan-aturan yang mengikat. Analisis tanda sebagai hasil proses-proses sosial menuju kepada sebuah pembongkaran struktur-struktur dalam yang mengemudikan setiap komunikasi.
Hal ini menandakan bahwa sistem tanda dan konvensinya merupakan jalan dalam pembongkaran makna tanpa memperhatikan  sistem tanda maka struktur karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara keseluruhan.
Munculnya kajian struktural semiotik ini sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem tersendiri.
Kajian struktural semiotik akan mengungkap karya sastra sebagai sistem tanda. Tanda tersebut merupakan sarana komunikasi yang bersifat estetis. Nauta (Seggers dalam Endaswara, 2003:65) membagi tiga jenis sarana komunikasi, yakni signals dan symbol. Signals adalah tanda-tanda yang merupakan elemen terendah. Sign adalah tanda-tanda. Symbol adalah lambang yang bermakna. Ketiganya digunakan bersamaan dalam dunia sastra. Oleh karena itu, tugas peneliti sastra adalah memberikan rincian ketiganya sehingga makna sastra menjadi jelas.

2.    Langkah Analisis Data
Sistem penelitian semiotik dapat menggunakan dua model pembacaan, yaitu heuristik dan hermeneutik.
2.1 Pembacaan Heuristik
        Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur kebahasaan atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Yang dilakukan dalam pembacaan ini antara lain menerjemahkan atau memperjelas arti kata-kata dan sinonim-sinonim. Pembacaan heuristik pada puisi dapat dilakukan dengan parafrase dengan menggunakan bahasa yang lebih logis (pemaknaan yang sesuai dengan sintaksis/tata bahasa).
2.2     Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang dilakukan secara berulang-ulang (retroaktif) atau berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua (konvensi sastra). Hal itu dilakukan untuk memperoleh daya interpretasi yang baik dalam mengungkapkan bahasa puisi yang lebih luas menurut maksudnya. Pembacaan hermeneutik ini berkaitan dengan konvensi sastra yang memberikan makna itu di antaranya konvensi ketaklangsungan ekspresi puisi (Riffaterre dalam Jabrohim, 2003:97). Ketidaklangsungan ekspresi puisi mencakup tiga hal (Endraswara, 2003:66), yaitu:
i)         Penggantian arti (displacing of meaning) adanya pemakaian bahasa kias, seperti metafora, personifikasi, alegori, metonimia, dan sebagainya. Misal: “bumi ini perempuan jalang” (Dewa Telah Mati karya Chairil Anwar) berupa metafora ini membandinngkan antara bumi dengan perempuan jalang (liar), berarti penyair ingin menyampaikan betapa “kejamnya” bumi ini.
ii)       Penyimpangan arti (distorting of
        meaning) penyimpangan arti  muncul            karena tiga hal, yaitu:
a) Ambiguitas muncul disebabkan oleh pemakaian bahasa sastra yang multimakna. Misal: “mengembara di negeri asing” (Doa karya Chairil Anwar) jelas melukiskan ambigu makna, yakni suasana bingung, tidak jelas, kabur, dan sunyi.
b) Kontradiksi, berupa perlawanan situasi. Misal: “serasa hidup dan mati, hidup di dunia seperti di neraka jahanam”
c) Nonsence, kata-kata yang secara lingual tidak bermakna karena adanya permainan   bunyi. Misal: “pot pot pot” (Amuk karya Sutardji Calzoum Bachri).
iii)      Penciptaan arti (creating of meaning)
Penciptaan arti disebabkan oleh pemanfaatan bentuk visual, misal: enjambemen, persajakan, homologues (persejajaran bentuk maupun baris), dan tipografi. Misal: puisi Tragedi Sihka dan Winka.
Hal ini mengisyaratkan bahwa sistem tanda pada puisi mempunyai makna berdasarkan konvensi-konvensi sastra. Konvensi-konvensi puisi tersebut antara lain: konvensi kebahasaan (bahasa kiasan, sarana retorika, dan gaya bahasa), konvensi yang menunjukkan ketidaklangsungan ekspresi puisi (penyimpangan arti, penggantian arti, dan penciptaan arti), konvensi visual (bait, baris sajak, enjambemen, rima, tipografi, dan homologue (Jabrohim, 2003: 70).

3.    Transkripsi Teks
Teks mangupa

Pantun 1
         Natuari, di mata ni ari guling
Di sima au ro tingon luat ni Mandailing
         Ia ulang suada na uoban
         Adat ni ompunta na robian
         Sai hita pagogo ma partahian
         Anso samate sahangoluan
        
         Terjemahan:

         Kemarin, ketika matahari berguling
         Di saat itulah aku datang dari ranah
         Mandailing
         Tiada apapun yang aku bawa
         Selain adat nenek moyang kita
         Marilah kita perkokoh kesepahaman kita
         Supaya kita sehidup semati selamanya

Pantun 2
         Pala dung songon i
         Sahino ma i samalu
         Inda marimbar na disuru
         Sude karejo angkon lalu
        
         Terjemahan:
Jika sudah demikian adanya
Sependeritaan dan seaiblah kita
Siapa saja yang diminta
Semua pekerjaan akan terlaksana

Pantun 3
Tubuan laklak, tubuan singkoru
Tubuan anak nian tubuan boru
Gosta-gosta giring-giring
Marompa mariring-iring   

Terjemahan:
Belilah salak pagi-pagi di pekan salak Sidempuan
Lahirlah anak laki-laki lahirlah anak perempuan
Gelang di tangan gemerincing
Menggendong anak beriring-iring

Pantun 4
Di Muarasada
Marlai-lai do singkoru                                                 
Langga-langga sada
Jolo halaklahi anso dadaboru

Terjemahan:
Di Muarasada di depan dangau
Berjurai-jurai buah rambutan
Berantara-antara satu
Anak laki-lakilah dahulu disusul anak perempuan

Pantun 5
                Dihanaek ni mataniari
                Di sima naek tua hamamora
                Harani rumbuk hita satahi
                Madung dapot lomo ni roha

Terjemahan:
                Di saat matahari sedang naik
Di saat itulah tuah dan kemuliaan naik
                Karena kita rukun kita sepakat
                Senang hatipun sudah didapat

Pantun 6
                Dijujar harambir poso
                Mangihut saludang na tobang
                Tinggalkon ma amang adat naposo
                Madung sandang adat matobang

                Terjemahan:
                Dijolok kelapa muda
                Ikut terjatuh pelapah tua
Tinggalkanlah Amang adat orang muda
                Sudah tersandang adat berkeluarga

Pantun 7
                Talduskon ma giring-giring
                Laho mamasukkon golang-golang
Tinggalkon ma inang adat mabujing 
                Madung jujung adat matobang  
               
Terjemahan:
                Lepaskanlah kerincing
                Ketika memasang gelang-gelang
                Adat remaja biarlah terbuang
                Adat berkeluarga sudah dijunjung

Pantun 8
         Malos ma dingin-dingin
         Obanon tu sipogu
         Horas ma tondi madingin
         Pir tondi matogu
         Sayur matua-bulung
         Horas… Horas… Horas!

         Terjemahan:
         Tanamlah betik di pekarangan
         Daun betik diperas menjadi obat
Semoga semangat sejuk dan nyaman
         Semoga semangat keras dan kuat
         Semoga panjang umur dan selamat
         Selamat… Selamat…Selamat!

Pantun 9
         Di son adong tulan rincan
         Sada sin siamun
         Sada sian siambirang
         Manorjak laho tu pudi
Mangambur laho tu jolo
         Mangambukon anak dohot boru
         Pitu sundut suada mara
         Maroban tua hamamora         
               
         Terjemahan:
         Inilah daging paha kerbau
         Dari sebelah kanan satu
         Dari sebelah kiri satu
         Menerjang ke belakang hulu
         Lalu meloncat kehadapan
Meloncatkan anak laki-laki dan  perempuan
         Tiada bencana tujuh keturunan
         Membawa tuah dan kemuliaan

Pantun 10

         Di son ma juhut gana-ganaan
Mambaen gorar maginjang-magodang
         Gorarna tarmauk-tarbonggal
         Tu ipar ni laut siborang
         Mambaen partahian ulang janggal
         Patogu tua ulang sirang

         Inilah daging hewan piaraan
Membuat nama menjadi panjang dan terkenal
Nama yang tersohor hingga ke seberang lautan  
         Berembuk janganlah janggal
Perkokoh tuah, keakraban jangan tanggal

4.      HASIL DAN PEMBAHASAN
      4.1 Kajian Strukturalisme Semiotik

Menurut Pierce, ada tiga faktor yang menentukan adanya tanda, yaitu ikon, yakni tanda yang secara inheren memiliki kesamaan dengan arti yang ditunjuk; indeks, yakni tanda yang mengandung hubungan kausal dengan apa yang ditandakan; dan simbol, tanda yang memiliki hubungan makna dengan yang ditandakan bersifat arbitrer, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan sosial tertentu. Dari beberapa teks pantun dapat dijumpai hubungan antara tanda dengan yang ditandai, sebagaimana pada daftar berikut.       

 
4.1.1   Ikon
Tabel 1. Ikon
Ikon
Yang Ditunjuk
Pantun
Matahari
Kehidupan
(1)
Berguling
Terbit
(1)
Pakat
Perkataan
(1)
Salak
Kota Sidempuan
(3)
anak laki-laki
pembawa marga
(3
Gelang
perhiasan
(3)
gemerincing
menunjukkan kedudukan
(3)
beriring-iring
banyak anak
(3)
muarasada
danau
(4)
rambutan
banyak anak
(4)
matahari
kemuliaan
(5)
kelapa muda
masa muda
(6)
Amang
anakku saying
(6)
pelepah tua
masa tua
(7)
kerincing
bergunjing
(7)
gelang-gelang
berkeluarga
(7)
Betik
obat
(8)
Kerbau
kesejahteraan
(9)
hewan peliharaan
kekayaan
(10)
                                                                         
4.1.2  Indeks
Tabel 2. Indeks
Indeks
Hubungan Kausal
Pantun
sependeritaan      
Aib
(2)
Gelang
berbunyi
(3)
Dangau
mandi
(4)
rambutan
berjuntai-juntai           
(4)
matahari
cerah       
(5)
kerincing             
kebisingan
(7)
Bencana
hancur
(9)
Nama
identitas                                     
(10)

 4.1.3  Simbol

Simbol à Hubungan makna à Pantun                              
Kemarin, ketika matahari berguling/ Di saat itulah aku datang dari ranah Mandailing/ Tiada apapun yang aku bawa/ Selain adat nenek moyang kita/ Marilah kita perkokoh pakat kita/ Supaya kita sehidup semati selamanya à Harapan yang tinggi akan kekukuhan serta kerukunan dalam hidup bersama (1). Belilah salak pagi-pagi di pekan salak Sidempuan/ Lahirlah anak laki-laki lahirlah anak perempuan/ Gelang di tangan gemerincing/ Menggendong anak beriring-iring à Harapan memiliki anak laki-laki dan perempuan (3). Di Muarasada di depan dangau/ Berjurai-jurai buah rambutan/ Berantara-antara satu/ Anak laki-lakilah dahulu disusul anak   perempuan à Harapan akan dikaruniai keturunan anak banyak, laki-laki dan perempuan (anak pertama laki-laki dan disusul anak perempuan) (4). Di saat matahari sedang naik/ Di saat itulah tuah dan kemuliaan naik/Karena kita rukun kita sepakat/ Senang hatipun sudah didapat àKeyakinan bahwa saat matahari sedang naik (biasanya antara pukul 10-11pagi) merupakan saat yang tepat melakukan acara mangupa (5). Dijolok kelapa muda/Ikut terjatuh pelapah tua/ Tingkanlah Amang adat orang muda/ Sudah tersandang adat berkeluarga/ Lepaskanlah kerincing/Ketika memasang gelang-gelang/ Adat remaja biarlah terbuang/ Adat berkeluarga sudah dijunjung à Anjuran kepada kedua mempelai agar meninggalkan tradisi/kebiasaan orang muda sebab mereka sudah memasuki masa tua (masa berumah tangga) (6 dan 7). Tanamlah betik di pekarangan/ Daun betik diperas menajadi obat/ Semoga semangat sejuk dan nyaman/ Semoga semangat keras dan kuat/ Semoga panjang umur dan selamat/ Selamat… Selamat…Selamat! à Harapan agar semangat sejuk, kokoh, dan usia terus berlanjut (8). Inilah daging hewan piaraan/ Membuat nama menjadi panjang dan terkenal/ Nama yang                tersohor hingga ke seberang lautan/ Berembuk janganlah janggal/ Perkokoh tuah, keakraban jangan tanggal à Harapan agar nama kedua mempelai menjadi mashur bukan saja di antara orang-orang dekat, tetapi               juga orang jauh (10).

5.    SIMPULAN

Dari delapan teks pantun dalam prosesi mangupa yang diteliti dapat disimpulkan bahwa hubungan antara tanda dengan yang ditandakan terdiri atas tiga faktor yaitu: ikon, indeks, dan simbol. Untuk ikon terdapat sembian belas  kata dan ungkapan, indeks sebanyak delapan kata dan ungkapan, sedangkan simbol terdapat sebanyak enam ungkapan dan kalimat yang mengacu pada teks ini.
               







6.      DAFTAR PUSTAKA


De Saussure, F. 1988. Course in General Linguistics. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Eco, Umberto. 1979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press.

Halliday, M.A.K, dan Ruqiyah Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hoed, Benny H. 2008. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia. 

Kress, G., Leeuwen, Van. 2006. Colour as a Semiotic Mode: Notes for a Grammar of Clour. Jakarta: Unika Atma Jaya.

Nasution, Pandapotan. 2005. Adat Budaya Mandailing.Medan: Forkala.

5 komentar:

  1. Bu saya ambil ya..
    Nama:Nasia halawa
    Nim:153306010074
    Kelas pagi C

    BalasHapus
  2. Bu..saya mengambil ini ya
    Nama:Sedih hartini lombu
    Nim:153306010080
    Kelas:3 pagi C

    BalasHapus
  3. Bu, saya ambil ini
    Nama : Milani Aftari
    Nim : 1633010121
    Kelas : 3 Pagi C

    BalasHapus
  4. bu saya ambil ini ya
    nama:erni sinaga
    nim :153306010015
    kelas:3pagi a

    BalasHapus